Newest Post
// Posted by :Parsley
// On :Minggu, 25 Oktober 2015
Karya : Arismawati (SMAN 1 Mamuju)
Lima
belas tahun yang lalu adalah tahun yang berat bagi Tasya. Kehilangan bukan lagi
hal aneh bagi Tasya belum lama ia berada di dunia ini Allah SWT telah
mengajarinya untuk tabah karena kehilangan sosok seorang ibu tercinta,setelah
kepergian sang ibu Tasya di asuh oleh ayahnya dan keluarga besar sang ibu,Tasya
mempunyai seorang kakak perempuan yang berumur 4 tahun,belum lama ibunya
meninggal Allah memberi cobaan lagi untuknya,ia harus di benci oleh kakaknya
karena kakaknya menganggap sang ibu meninggal akibat dari ia dilahirkan. Saat
itu kakaknya tidak ingin bertemu dengan dia, kakaknya sangat membenci
dirinya,tasya bayi yang tidak mengetahui apapun harus mengalami nasib yang
semiris itu.
Setelah
beberapa bulan peninggalan ibunya, ia
akhirnya diasuh oleh bibinya yang bernama Lia karena sang kakak tidak ingin
bertemu dia,ya,,tidak ingin bertemu Tasya adik kandungnya sendiri sehingga ia
harus dibesarkan tanpa kasih sayang orang tua dan tanpa sedikitpun belaian sang
ayah apalagi sang ibu ,mungkin ini merupakan cara Allah untuk memberi banyak
ketabahan pada tasya agar suatu saat nanti ia mampu melalui ini semua, namun ia
patut bersyukur kepada Allah SWT karena ia masih mendapatkan kasih sayang dari
bibinya tersebut,bibinya merawat ia dengan kasih sayang bahkan jika ia
bertengkar dengan anak bibinya sendiri ia selalu di bela oleh bibinya maupun
pamannya tersebut. Tidak terasa 4 tahun berlalu dan Tasya diambil oleh adik
ibunya yang bernama Rina. Bibinya yang bernama Rina memiliki anak perempuan
yang seumuran dengannya sehingga tidak butuh berapa lama ia sudah memiliki
teman. Akhirnya dia masuk taman kanak-kanak,ia merasa malu dan canggung untuk
berteman dengan teman-temannya karena hanya dia yang tidak memiliki ibu,ia
selalu mendapat ejekan dari teman-temannya namun ia hanya bisa menangis dengan
sembunyi-sembunyi karena ia tidak ingin orang tau bahwa ia sedang sedih ia
ingin orang melihat dia senang meskipun ibunya tidak ada disampingnya. Setelah
selesai menempuh TK yang sangat menyiksa bagi seorang anak yang masih berumur 6
tahun akhirnya ia kembali kepada bibinya yang bernama Lia, setelah beberapa
lama Tasya memanggil bibinya itu dengan sebutan mama mungkin karena bibinya itu
yang merawat dia dari kecil.
Akhirnya ia telah memasuki bangku Sekolah
Dasar, ia harus menggunakan sepeda agar sampai disekolahnya yang berjarak
kurang lebih 7 kilo dari rumahnya,,,,ya,,, anak sekecil itu harus bersepeda
kurang lebih 40 menit agar sampai disekolahnya tersebut dan harus melakukannya
setiap masuk sekolah selama 6 tahun, namun ia memiliki banyak teman tanpa harus
mendapat banyak ejekan. Saat ia berusia
7 tahun ia penasaran di mana ibunya tinggal namun ia takut menanyakan hal
tersebjut,berbagai macam versi cerita tentang ibunya yang ia dapatkan namun ia
masih belum yakin sehingga pada umur 8 tahun akhirnya ia memberanikan diri
untuk bertanya kepada bibinya.
Imma :
Mama ibu kandungku sekarang dimana,,,???
(katanya
dengan nada sedikit bercanda).
Bibi
Lia : Setelah 40 hari kamu dilahirkan ibumu sudah meninggal karena kanker
payudara lalu kakakmu
membencimu karena kakakmu menganggap
kamulah sebab kematian ibumu,tapi
jangan dengarkan itu karena
kakak kamu waktu itu juga
msaih kecil.
(dengan
nada santai ).
Imma :
OH!!!
(katanya singkat).
Bibi
Lia :
emangnya ada apa???
(tanyanya
sedikit heran).
Imma : Engga kok.
(Dia lalu pergi meninggalkan tantenya yang
duduk ).
Setelah kejadian itu dia selalu merenung
dan menangis dan selalu bertanya-tanya “kenapa harus aku yang dilahirkan saat
engkau ingin mengambil ibuku tuhan”tanyanya dalam hati, ia hanyalah anak polos
yang berusia 8 tahun yang baru menemukan kenyataan yang pahit hanya bisa
bersedih sendiri tanpa ada yang memberi dia semangat. Namun setelah beberapa
hari diapun lupa dengan hal itu, dan berhembus kabar bahwa ayahnya sudah
menikah lagi,diapun menanggapi berita hal tersebut sangat santai dan cukup
senang. Karena ia berpikir mungkin ayahnya sangat butuh seorang istri untuk
menemaninya dirumah.
Bulan ramadhan pun tiba dia dipanggil oleh
ayahnya untuk berlibur kerumah ayahnya di Kalimantan Timur atau tepatnya di
Samarinda, dia dan neneknya pergi kerumah ayahnya betapa terkejutnya dia
melihat sosok sang ayah,diapun agak canggung untuk menyapa ayahnya . Di rumah
sang ayah, Tasya pun sangat dimanja dan di beri perhatian lebih oleh ayahnya
maupun ibu tirinya begitu pula dengan kakaknya yang sejak kecil membencinya.
Namun belum sempat ia melepaskan rindunya kepada sang ayah ia pun harus pulang
ke kampungnya karena libur sekolah telah usai.
Saat usia 13 tahun ia pun masuk di salah
satu sekolah menengah pertama dikampungnya tersebut, jarak dari rumah ke
sekolah cukup jauh sehingga ia harus menggunakan angkutan umum agar ia bisa
sampai disekolahnya tersebut,hari-hari ia lalui dengan menggunakan angkutan
umum tersebut,saat mentari telah menampakkan dirinya ia pun bersiap-siap
menunggu angkutan umum lewat, dan ketika matahari tepat di atas kepala tasya
pun kembali menunggu angkutan umum tersebut panas,lapar, dan gerah itulah
perasaan yang ia rasakan, menunggu dan akan selalu menunggu,begitulah yang ia
lakukan selama dua setengah tahun, saat Tasya duduk dikelas IX akhirnya dia
dibelikan kendaraan oleh suami bibinya yang bernama Arif karena ia kasihan
melihat Tasya harus menunggu diterik matahari yang cukup panas meskipun
kendaraannya tidak terlalu bagus namun setidaknya mampu mengantarnya ke
sekolah,ia sebenarnya mampu membeli kendaraan yang jauh lebih bagus dari itu
jika ia meminta kepada ayahnya namun Tasya sangat malu kepada sang ayah
berbicara dengannya pun tak berani apalagi harus meminta kendaraan yang bagus.
Sudah 4 tahun lebih dia tidak bertemu dengan sang ayah, sehingga ia mungkin
agak canggung untuk memulai semua itu.
Setelah berumur 15 tahun Tasya di panggil
oleh bibinya yang bernama Rina untuk sekolah di Mamuju. Di rumah bibinya, Tasya
di terima dengan suka cita oleh keluarga bibinya tersebut. Bibinya tersebut
menyekolahkan dia di salah satu sekolah menengah atas di kota Mamuju tersebut
ia pun bersekolah dengan tekun tanpa ada masalah, meskipun awal masuk sekolah
dia agak canggung namun lama kelamaan dia nyaman. Setelah hampir satu tahun ia
sekolah disana kejadian yang menimpanya 15 tahun yang lalu kembali terjadi
Allah kembali menguji ketabahannya karena suami bibinya itu meninggal dunia, banyak
orang bilang dia harus ikhlas dan tabah menjalaninya meskipun sangat berat yang
dia rasakan? “Tidak akan ada yang pernah tau selagi kalian sendiri yang
mengalaminya ”jawabnya dalam hati.
Setelah peninggalan pamannya tersebut
ekonomi bibinya mulai terpuruk mau tidak mau dia makan seadanya. Dia mencoba
ikhlas meskipun berat yang ia rasakan, ia tak pernah mengira akan jadi seperti
ini setelah pamannya meninggal ia baru benar-benar merasakan kehilangan karena
sewaktu ibunya meninggal ia masih sangat kecil sehingga ia tak tau apa-apa
tentang kehilangan, ia lalu teringat kembali pada ibunya yang pergi
meninggalkan dirinya untuk selamanya “seandainya waktu bisa berhenti,aku rindu
ibu, aku ingin melihatnya, aku ingin mencium tangannya dan akupun rela
melakukan apa saja asalkan ibuku bisa kembali” katanya sambil menangis
tersedu-sedu, setelah beberapa lama ia menangis ia pun memutuskan untuk
mengambil air wudhu dan melakukan shalat, setelah selesai melakukan shalat dia
pun menangis dan mengangkat kedua tangannya dan mengadahkan wajah lalu berdoa,”Ya
Allah setiap waktu aku selalu teringat dengan ibuku namun aku tahu kini ibuku sangat dekat denganku. Ya
Allah semoga aku bisa membuatnya tetap bangga dan selalu bangga padaku dan bisa
membuatnya bahagia di sisiMu,semoga aku bisa seperti yang ibuku inginkan dan
aku bersyukur kepadaMu memberinya kemudahan untuk nafas terakhirnya, meski aku
iri pada teman-temanku yang memiliki ibu, tapi apa daya ibuku tak akan pernah
kembali lagi bersamaku tapi pada dasarnya segala yang ada di dunia ini pasti
akan kembali kepadaMu. Ya Allah,ampunilah dosa-dosa ibuku,berikanlah ia tempat
yang layak di sisiMu.amin” katanya sambil tetap menangis.
Setelah kejadian itu ia selalu berusaha untuk
mengambil hikmah dari semua kejadian yang menimpanya karena ia tahu bahwa di
balik semua penderitaan dan kesedihan
yang semua orang alami pasti di balik itu semua tersimpan kebahagiaan yang luar
biasa indahnya. Ia belajar tetap bersyukur karena disetiap pijakan kakinya
selalu ada orang yang selalu menemaninya dan memberikan kasih sayang yang begitu banyak kepadanya meskipun itu
bukan dari ibu kandungnya sendiri, “ternyata kasih sayang bukan hanya dari
ibuku namun bisa juga dari keluarga terdekatku,seperti bibi, paman, dan teman-temanku,
yang selama ini tidak ku sadari, terima kasih ya Allah” gumannya dalam hati
sambil melihat keluarganya tertawa.
Setelah
setahun berlalu ekonomi keluarga bibinya mulai membaik,bibinya diterima bekerja
sebagai pegawai dan anak bibinya yang laki-laki juga diterima bekerja disalah
satu perusahaan swasta,sekarang Tasya sudah duduk di bangku SMA kelas XII dan
kurang lebih satu tahun lagi dia lulus dan melanjutkan keperguruan tinggi demi
membuat bangga sang ibu tercinta di sisi Allah SWT dan membuat orang kagum padanya. Pesan dari Tasya yaitu jangan ragu
dalam setiap langkahmu karena pasti akan selalu ada orang yang memberikanmu
cinta tanpa kau sadari, dan selalu tetap bersyukur dan berdoa.
Baca juga :