Newest Post
// Posted by :Parsley
// On :Rabu, 26 Agustus 2015
Karya : Parsley
Saat itu, sedang berlangsung kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) di SMAN 1 Mamuju. Suasana nampak begitu ramai. Setiap kelas punya perwakilan dalam kegiatan itu. Nia yang merupakan gadis cantik dan baik hati menjadi perwakilan dari kelas X.A. Dia tidak sendiri, ada Lusi, dan Gatra yang juga perwakilan dari kelas yang sama. Ketiganya duduk berdekatan saat acara sedang berlangsung.
Saat itu, sedang berlangsung kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) di SMAN 1 Mamuju. Suasana nampak begitu ramai. Setiap kelas punya perwakilan dalam kegiatan itu. Nia yang merupakan gadis cantik dan baik hati menjadi perwakilan dari kelas X.A. Dia tidak sendiri, ada Lusi, dan Gatra yang juga perwakilan dari kelas yang sama. Ketiganya duduk berdekatan saat acara sedang berlangsung.
Di tengah berlangsungnya kegiatan,
Nia dan Lusi justru asyik bercerita. Gatra yang duduk di samping Nia merasa
terganggu dengan mereka berdua.
“Kalian bisa diam tidak? Kalian
mengganggu konsentrasi saya.” bisik Gatra.
“Isshh . . . kenapa sih? Bilang saja
kamu iri. Kamu kan tidak punya teman cerita.” balas Nia.
Mendengar hal itu, Gatra hanya diam
dan memalingkan wajahnya ke depan. Gatra sebenarnya sangat menyukai Nia. Tapi
dia tidak pernah berani mengungkapkannya.
Setelah kegiatan telah selesai, Nia
dan Lusi berjalan jalan di depan kelas XI IPA 1. Mereka melihat Wahyu yang
merupakan ketua panitia LDKS.
“Eh . . . lihat, bukankah itu kak
Wahyu?” kata Nia.
“Yang mana?” balas Lusi dengan
pelan.
“Itu, yang pakai baju merah.” kata
Nia.
Lusi pun melihat Wahyu dan berkata
“oh iya, itu memang kak Wahyu.”. Kemudian Gatra datang menghampiri mereka
berdua dan bertanya “Apakah kalian tidak pulang?”
“Kami sudah mau pulang.” jawab Lusi.
“Iya, kami sudah mau pulang.” tambah
Nia.
“Oh, kalau begitu saya duluan ya.
Soalnya saya lagi terburu-buru.” kata Gatra.
“OK. . .” balas Lusi dan Nia.
Dua minggu kemudian tepatnya minggu pagi Nia,
Lusi, dan Gatra berkumpul di sekolah bersama dengan peserta kegiatan LDKS
lainnya. Mereka di arahkan untuk outbound
di kali Mamuju.
Setelah tiba di sana, semua peserta bermain
bersama. Ketika waktu istirahat tiba, Gatra mengajak Nia untuk jalan-jalan di
sekitar kali. Namun, Nia menolak dan memilih berjalan-jalan sendiri di sekitar
kali dan bertemu Wahyu yang sedang memotret. Diam-diam Wahyu memotret Nia. Tapi
Nia menyadari hal itu, dan dia langsung mengambil pose yang bagus. Melihat Nia
seperti itu, Wahyu makin semangat memotret Nia.
“Senyum dek,” kata Wahyu.
“Ini kak” balas Nia.
Waktu istirahat pun selesai, Nia
kembali berkumpul dengan peserta lainnya. Mereka bermain bersama dengan berbagai
macam permainan. Gatra mendekati Nia dan mengajaknya bermain. Mereka bermain
sampai siang. Dan semuanya pun pulang.
Keesokan harinya, Nia bersama temannya yang bernama Elika berbelanja
di kantin sekolah. Setelah pulang dari kantin, salah satu dari teman Wahyu
berteriak “ Nia, Wahyu suka sama kamu”. Mendengar hal ini, Nia merasa aneh. Dia
tidak tau apa yang dia rasakan, apakah itu senang tau sedih.
Sementara itu, di dalam kelas Gatra
sedang bercerita dengan teman-temannya. Salah satu temannya bernama Mike
menyarankan Gatra agar segera mengungkapkan perasaannya kepada Nia.
“Gatra, mengapa kamu tidak berani
mengungkapkannya? Nanti dia diambil orang. Ungkapkanlah . . .”
Kata Mike
“Saya takut ditolak. Saya belum siap
Mike.” Balas Gatra.
Kemudian Joko, teman baik Gatra
tiba-tiba dating dan mengagetkan semuanya.
“Hei . . ., kalian sedang apa di
sini? Ayo kita bermain futsal” kata Joko.
“Kamu ini, fikirnya cuma futsal
terus. Coba fikirkan nasibmu sedikit. Kamu itu sudah abstrak, hidup lagi.” Kata
Mike dengan nada bercanda.
“Lihat juga rambutmu, itu mie instan
atau apa?” balas Joko dengan bercanda pula.
Melihat kedua temannya, kepala Gatra
jadi pusing. Dia langsung meninggalkan mereka. Dia menuju kantin dan bertemu
Nia diperjalanan. Dia ingin mengungkapkan perasaannya tapi dia masih takut
ditolak. Dia pun hanya tersenyum kepada Nia. Namun, sayang Nia tidak
memperhatikan Gatra karena asyik cerita dengan Elika. Senyum Gatra pun sia-sia.
Dan bel berbunyi tanda kelas sudah dimulai.
Bel kembali berbunyi tanda pelajaran
telah selesai. Di luar kelas sudah ada Gian yang merupakan teman dekat Wahyu.
Gian memanggil Elika.
“Elika, saya mau minta nomor telepon
Nia. Kamu punya kan?” tanya Gian.
“Punya kak. Saya sebutkan ya” jawab
Elika.
Elika pun menyebutkan nomornya. Dan
Gian menulisnya diselembar kertas. Kertas itu kemudian diberikan kepada Wahyu.
Semenjak saat itu, Wahyu sering berkomunikasi dengan Nia melalui telepon.
Sejak saat itu Nia terus dekat
dengan Wahyu. Mereka sudah sering cerita bersama, baik itu tentang mereka
berdua atau hal lainnya.
Seminggu berlalu . . .
Lagi-lagi Nia mengikuti kegiatan di
sekolah. Tentunya ada juga Gatra yang terus berusaha dekat dengan Nia. Kali ini
adalah acara Kelompok Ilmiah Remaja (KIR). Setelah acara selesai, Gatra langsung
pulang dan tidak menyapa Nia. Sementara itu, Wahyu mengikuti Nia ke kelas X.a.
Tepatnya di depan kelas Wahyu menahan Nia dan mengungkapkan perasaannya. “Dek,
saya suka sama kamu. Apa kamu jadi pacarku?”. Mendengar ucapan itu, Nia jadi
bingung. Dia belum bisa menjawabnya. Dia ingin meminta izin dulu kepada ibunya
untuk berpacaran, selain itu dia merasa tidak enak dengan Gatra yang sejak dulu
menyukainya.
Sementara itu, Gatra yang mendengar
kabar itu dari Joko hanya bisa termenung. Dia merenungi ketidakberaniaanya.
Andai saja dia lebih berani, ini tidak akan terjadi. Namun nasi sudah menjadi
bubur dan Gatra tidak akan bisa mengubaha apa yang telah terjadi. Kini dia
hanya pasrah dengan keputusan Nia.
Setibanya di rumah, Nia langsung
menanyakan hal tersebut ke ibunya. Dan dia juga menceritakan sejauh mana dia
mengenal Wahyu. Akhirnya, ibunya menyetujuinya dengan Wahyu. Namun, dia masih
merasa tidak enak dengan Gatra. Dia terus berfikir mengapa Gatra yang sejak
dulu menyukainya tidak pernah mengungkapkan apa yang dia rasakan sementara
Wahyu yang belum lama mengenalnya justru lebih berani. Tapi, dia harus segera
memutuskan.
Beberapa hari kemudian, Nia pun
memutuskan. Dia menerima Wahyu. Hal itu mengakibatkan Gatra kesal dan marah
kepada Nia. Gatra memilih untuk tidak berbicara kepada Nia. Itu terjadi selama
beberapa hari. Namun, lama kemudian Gatra menyadari bahwa itu hanya sia-sia.
Semuanya telah terjadi, dan itu karena dia tidak berani mengungkapkan
perasaannya.
Kemudian lama kelamaan, Gatra sudah
mulai melupakan Nia. Dia sudah memiliki wanita idaman yang baru. Sementara Nia,
semakin dekat dengan Wahyu, meskipun kini mereka tinggal berjauhan. Mereka
saling percaya bahwa mereka bisa menjaga hubungan.
ceritanya cukup bagus, tap masih perlu pengembangan ;)
BalasHapus