Newest Post

// Posted by :Parsley // On :Sabtu, 24 Oktober 2015

Karya : Syukrina Dwi Kasita
Kelas    : XII IPA 1

     
Ada seorang anak yang menjadi kebanggan orang tuanya, namanya Muhammad Ilham dan orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan Ilham tetapi Rina yang merupakan keponakannya biasa memanggilnya dengan sebutan Illang. Meskipun Illang dan Rina merupakan paman dan keponakan, tetapi selisih umur mereka tidak jauh hanya terpaut 5 tahun itu disebabkan karena ibu Rina yang tak lain juga adalah saudara Illang merupakan kakak pertama. Illang merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara dan diantara saudaranya dialah yang paling tampan, yah... tentu saja karena semua saudaranya adalah wanita.
     Sejak kecil dia memang sangat pandai, mulai dari masuk sekolah dasar sampai lulus sekolah menengah pertama dia selalu menjadi juara kelas. Rina heran bagaimana dia sepintar itu, padahal Rina sendiri tidak pernah melihatnya belajar dan kerjaannya pun hanya main game dan nonton film kartun saja. Rina masih ingat Illang pernah mengatakan, “Di rumah tempat bersantai kalau belajar baru di sekolah”. Kalimat yang diucapkannya begitu sederhana tetapi orang lain akan berfikir bahwa tidak semudah itu untuk mendapatkan nilai terbaik jika hanya belajar di sekolah tanpa dibarengi belajar tambahan di rumah. Yah... mungkin saja Illang selalu belajar tetapi dia tidak memperlihatkannya, karena bagaimana pun juga ilmu bisa didapatkan hanya dengan belajar. Setelah lulus sekolah menengah pertama Illang lagi-lagi membuktikan kepandaiannya dengan diterimanya dia disalah satu sekolah menengah atas terbaik di Sulawesi yaitu SMA Negeri 2 Tinggimoncong dan mendapatkan biaya siswa, hal itu memang pantas dia dapatkan dari proses dijalaninya untuk mendapatkan ilmu yang membuatnya pandai.
     Illang adalah orang yang baik hati, ramah, dan mudah bergaul makanya dia memilik banyak teman dan disukai oleh teman-temannya, dia juga orang yang sederhana dan agak cuek sehingga terlihat begitu keren dan dikagumi teman-teman wanitanya. Apalagi Illang jago main gitar dan masuk group band yang merupakan salah satu eskul di sekolahnya. Wah... siapa coba yang tidak terpikat olehnya. Setiap liburan sekolah Illang akan pulang dari ibu kota ke kota ibu, pulang kampung maksudnya hehehe.... Dia akan menghabiskan waktunya bersama para keponakannya dengan pergi karaokean, main odong-odong di alun-alun kota, begadang nonton film, main kartu sampai berjam-jam, dan masih banyak lagi bahkan hal-hal konyol sekalipun mereka lakukan. Kepada keponakannya Illang sering menceritakan pengalamannya ketika berada di asrama dan di sekolahnya.
Illang : “Di sekolah ku itu sangat disiplin. Kelas baru bubar pada malam hari, belum lagi ada tugas-tugas yang harus dikerjakan sehingga tidurnya tengah malam dan bangunnya pun harus sangat pagi karena harus mengantri untuk mandi”.
Rina   : “Waduh... sulit juga sekolah disana”.
Illang : “Ah... tidak juga, lama-lama juga akan terbiasa. Dan kau juga harus     sekolah disana, oke!”.
 Rina  : “Benarkah... tapi pasti persaingan masuk ke sekolah itu sangat ketat, harus       cerdas dan butuh kerja keras”.
Illang : “Tentu saja, makanya disebut salah satu sekolah terbaik karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan bersekolah disana. Tetapi percaya deh... kalau kau memiliki kemauan dan menetapkan target pasti bisa, tentunya dengan banyak belajar”.
Rina  : “Yah... lihat saja nanti, jika aku memiliki nilai cukup baik mungkin ada  peluang untuk melanjutkan sekolah ku disana”.
Illang : “Kalau begitu mulailah dari sekarang, belajar dengan tekun dan banyak membaca”.
Rina  : “Aku orang yang cepat bosan sehingga aku tidak suka membaca dan aku juga tidak suka menulis karena tulisan ku sangat jelek”.
Illang : “Aku juga seperti itu, tapi lama kelamaan aku menjadi suka dan terbiasa       karena aku tau membaca adalah hal sangat penting”.
Rina  : “Yah... baiklah.
     Dengan berjalan terusnya waktu, Illang pun dinyatakan lulus dari sekolah menengah atas dan berkesempatan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Sewaktu Illang mempersiapkan diri untuk masuk ke universitas dia dan teman-temannya menyewa kos-kosan di salah satu tempat di kota Makassar untuk belajar bersama selama tiga bulan tanpa mengikuti les ataupun kursus. Dari dulu Illang memang tidak pernah mengikuti les privat atapun kursus, dapat dikatakan bahwa dia bisa berbahasa inggris dan menguasai mata pelajaran lainnya dengan hanya belajar di rumah dan di sekolah atau bisa disebut otodidat. Dengan terus fokus belajar selama tiga bulan, usahanya pun berbuah manis dengan lulusnya dia masuk di universitas Institut Teknologi Bandung (ITB). Ketika Illang ingin melihat hasil ujiannya masuk ke universitas dia pergi ke warnet dan perlahan-lahan membuka web site pengumuman, dia sangat terkejut dan tidak menyangka akan hasil yang diperolehnya, begitu terharunya dia langsung sujud syukur didepan orang-orang yang ada di tempat itu dan seakan tidak peduli ketika semua orang memandanginya. Itu ekspresi yang wajar ketika orang melihat suatu keajaiban didepan matanya. Bagaimana tidak, dia mendapatkan sebuah tiket awal masa depan dari ribuan orang yang mendaftar Illang termasuk salah satu dari ratusan orang yang diterima.  Wah... itu sungguh luar biasa, dia diterima di universitas tempat tercetaknya anak-anak muda dengan kualitas terbaik yang tidak diragukan lagi dan tempat asal dimana ada beberapa presiden Indonesia yang pernah belajar disana.
     Illang pulang hanya setahun sekali atau melewati dua semsester, yah... untuk ngirit uang pesawat, tau kan harga tiket pesawat jadi mahal banget kalau sudah masa liburan. Jika hanya libur satu atau sampai tiga minggu saja Illang tidak akan pulang, dia akan menghabiskan liburannya dengan belajar tambahan, traveling, ataupun mendaki gunung bersama teman-temannya. Meskipun Illang sudah jadi anak kota dan bergaul dengan orang-orang yang lebih gaul dan modern di kota besar, tetapi setiap pulang dia tetap orang yang sama dengan berbagai karakter uniknya. Illang yang tetap sederhana, yang tetap konyol, yang tetap mengagumkan, dan yang tetap menjadi seorang paman yang asik bagi para keponakannya. Seperti biasa Illang dengan keponakan-keponakannya akan reunian bareng setiap liburan, mereka tidak akan menyia-nyiakan waktu yang sangat sedikit itu untuk bersenang-senang.
Yah... karakter Illang memang tidak pernah berubah tetap jail, tetapi sikapnya semakin dewasa saja. Dia memberikan pelajaran kepada keponakan-keponakannya dengan cara-cara yang seru sehingga mereka bisa menerimanya dengan baik dan gembira, seperti mengajak nonton film yang memiliki unsur-unsur ilmu didalamnya, pergi joging, dan pergi berenang. Apalagi untuk Rina, Illang terus memberikan motivasi dan inspirasi kepada keponakannya yang satu itu, karena tidak lama lagi Rina akan mengikuti ujian nasional dan melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi.
Illang : “Kau ingin masuk di universitas mana?”
Rina  : “Belum tau”.
Illang : “Kau harus keluar Sulawesi, agar kau mendapatkan pengalaman. Atau   masuk di ITB saja!”
Rina  : “Kepengen sih... tapi kau tau kan, otakku berkelas standar bagaimana bisa sekolah di Jawa sepertimu coba. Apalagi waktu masuk SMA Negeri 2 Tinggimoncong tidak berhasil, tapi emang tidak pernah dicoba sih...”
Illang : “Pasti bisa, optimis dong... kau hanya perlu belajar”.
Rina  : “yah... memang kunci akhirnya adalah belajar”.
Illang : “Kau tau berapa nilai matematika ku pada ujian nasional? Ayo tebak!”
Rina  : “mmh... sekitar 8!”
Illang : “tidak, 10”.
Rina  : “hah... nilai sempurna, serius!”
Illang : “iya... ada satu nomor yang jawaban ku berbeda dengan teman ku, kami mempertahankan pendirian masing-masing dan setelah hasil ujian nasional keluar aku mendapat nilai 10 dan terbukti aku yang benar”.
  Rina   : “wow... keren!”
Illang : “Iyalah... sebenarnya paman mu ini sangat pintar”.
Rina   : “Yah... baiklah”.
Illang : “Intinya kau harus menguasai satu bidang. Tidak perlu tau semua tapi cukup ahli dalam satu bidang mu, maka kau akan mudah masuk universitas karena keahlian itu. Apa yang menurut mu pelajaran yang kau bisa dan sukai?”
Rina   : “Matematika... yah, lumayan lah!”
Illang : “Bagus, terus tingkatkan belajar mu. Cari waktu untuk belajar full dan fokus, optimis lah!”
Rina  : “yups... oke”.
     Sebenarnya liburan Illang masih beberapa minggu lagi, tetapi dia kembali ke kota Bandung lebih awal karena tidak bisa mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik disini. Yah... karena keponakan-keponakannya yang selalu mengganggu dan mengajak bersenang-senang melulu. Illang  juga tidak langsung ke kota Bandung, dia singgah dulu di kota Makassar untuk ngumpul bersama teman-teman SMA nya dan pergi traveling bersama. Kapan lagi bisa ngumpul bareng bersama teman-temannya kalau bukan sekarang, makanya Illang tidak bisa menolaknya.
     Sekarang Illang sudah berada di semester akhir perkuliahannya dan tidak lama lagi akan wisuda. Dia pernah ingin melanjutkan kuliahnya di Jepang, tapi sayangnya gagal. Mungkin itu pertama kalinya Illang berhadapan dengan kegagalan, tetapi dia tidak pernah menyerah bahkan Illang berencana akan mencoba lagi keinginannya untuk bersekolah di Jepang untuk melanjutkan S2 nya disana. Illang adalah orang yang selalu menyikapi hidup ini dengan pemikiran yang sederhana tetapi berlangkah dengan hebat. Itulah kenapa dia selalu bersikap optimis karena dia memenuhi pikirannya dengan hal-hal yang sederhana sehingga tidak membebani otaknya dan berani bertindak secara nyata. Kegagalan tidak akan menghentikannya untuk meraih yang dia inginkan dan kesuksesan yang sudah pasti akan dia dapatkan karena peroses yang dia lewati tidak akan menghianati kesukseannya sebab proses selalu berdampingan dengan kesuksesan.



Baca Juga :




Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

// Copyright © Anak Bambu //Anime-Note//Powered by Blogger // Designed by Johanes Djogan //