Newest Post

Archive for Agustus 2015

Karya : Parsley

Saat itu, sedang berlangsung kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) di SMAN 1 Mamuju. Suasana nampak begitu ramai. Setiap kelas punya perwakilan dalam kegiatan itu. Nia yang merupakan gadis cantik dan baik hati menjadi perwakilan dari kelas X.A. Dia tidak sendiri, ada Lusi, dan Gatra yang juga perwakilan dari kelas yang sama. Ketiganya duduk berdekatan saat acara sedang berlangsung.
            Di tengah berlangsungnya kegiatan, Nia dan Lusi justru asyik bercerita. Gatra yang duduk di samping Nia merasa terganggu dengan mereka berdua.
            “Kalian bisa diam tidak? Kalian mengganggu konsentrasi saya.” bisik Gatra.
            “Isshh . . . kenapa sih? Bilang saja kamu iri. Kamu kan tidak punya teman cerita.” balas Nia.
            Mendengar hal itu, Gatra hanya diam dan memalingkan wajahnya ke depan. Gatra sebenarnya sangat menyukai Nia. Tapi dia tidak pernah berani mengungkapkannya.
            Setelah kegiatan telah selesai, Nia dan Lusi berjalan jalan di depan kelas XI IPA 1. Mereka melihat Wahyu yang merupakan ketua panitia LDKS.
            “Eh . . . lihat, bukankah itu kak Wahyu?” kata Nia.
            “Yang mana?” balas Lusi dengan pelan.
            “Itu, yang pakai baju merah.” kata Nia.
            Lusi pun melihat Wahyu dan berkata “oh iya, itu memang kak Wahyu.”. Kemudian Gatra datang menghampiri mereka berdua dan bertanya “Apakah kalian tidak pulang?”
            “Kami sudah mau pulang.” jawab Lusi.
            “Iya, kami sudah mau pulang.” tambah Nia.
            “Oh, kalau begitu saya duluan ya. Soalnya saya lagi terburu-buru.” kata Gatra.
            “OK. . .” balas Lusi dan Nia.
             Dua minggu kemudian tepatnya minggu pagi Nia, Lusi, dan Gatra berkumpul di sekolah bersama dengan peserta kegiatan LDKS lainnya. Mereka di arahkan untuk outbound di kali Mamuju.
            Setelah tiba di sana, semua peserta bermain bersama. Ketika waktu istirahat tiba, Gatra mengajak Nia untuk jalan-jalan di sekitar kali. Namun, Nia menolak dan memilih berjalan-jalan sendiri di sekitar kali dan bertemu Wahyu yang sedang memotret. Diam-diam Wahyu memotret Nia. Tapi Nia menyadari hal itu, dan dia langsung mengambil pose yang bagus. Melihat Nia seperti itu, Wahyu makin semangat memotret Nia.
            “Senyum dek,” kata Wahyu.
            “Ini kak” balas Nia.
            Waktu istirahat pun selesai, Nia kembali berkumpul dengan peserta lainnya. Mereka bermain bersama dengan berbagai macam permainan. Gatra mendekati Nia dan mengajaknya bermain. Mereka bermain sampai siang. Dan semuanya pun pulang.
            Keesokan harinya, Nia  bersama temannya yang bernama Elika berbelanja di kantin sekolah. Setelah pulang dari kantin, salah satu dari teman Wahyu berteriak “ Nia, Wahyu suka sama kamu”. Mendengar hal ini, Nia merasa aneh. Dia tidak tau apa yang dia rasakan, apakah itu senang tau sedih.
            Sementara itu, di dalam kelas Gatra sedang bercerita dengan teman-temannya. Salah satu temannya bernama Mike menyarankan Gatra agar segera mengungkapkan perasaannya kepada Nia.
            “Gatra, mengapa kamu tidak berani mengungkapkannya? Nanti dia diambil orang. Ungkapkanlah  . . .”  Kata Mike
            “Saya takut ditolak. Saya belum siap Mike.” Balas Gatra.
            Kemudian Joko, teman baik Gatra tiba-tiba dating dan mengagetkan semuanya.
            “Hei . . ., kalian sedang apa di sini? Ayo kita bermain futsal” kata Joko.
            “Kamu ini, fikirnya cuma futsal terus. Coba fikirkan nasibmu sedikit. Kamu itu sudah abstrak, hidup lagi.” Kata Mike dengan nada bercanda.
            “Lihat juga rambutmu, itu mie instan atau apa?” balas Joko dengan bercanda pula.
            Melihat kedua temannya, kepala Gatra jadi pusing. Dia langsung meninggalkan mereka. Dia menuju kantin dan bertemu Nia diperjalanan. Dia ingin mengungkapkan perasaannya tapi dia masih takut ditolak. Dia pun hanya tersenyum kepada Nia. Namun, sayang Nia tidak memperhatikan Gatra karena asyik cerita dengan Elika. Senyum Gatra pun sia-sia. Dan bel berbunyi tanda kelas sudah dimulai.
            Bel kembali berbunyi tanda pelajaran telah selesai. Di luar kelas sudah ada Gian yang merupakan teman dekat Wahyu. Gian memanggil Elika.
            “Elika, saya mau minta nomor telepon Nia. Kamu punya kan?” tanya Gian.
            “Punya kak. Saya sebutkan ya” jawab Elika.
            Elika pun menyebutkan nomornya. Dan Gian menulisnya diselembar kertas. Kertas itu kemudian diberikan kepada Wahyu. Semenjak saat itu, Wahyu sering berkomunikasi dengan Nia melalui telepon.
            Sejak saat itu Nia terus dekat dengan Wahyu. Mereka sudah sering cerita bersama, baik itu tentang mereka berdua atau hal lainnya.
            Seminggu berlalu . . .
            Lagi-lagi Nia mengikuti kegiatan di sekolah. Tentunya ada juga Gatra yang terus berusaha dekat dengan Nia. Kali ini adalah acara Kelompok Ilmiah Remaja (KIR). Setelah acara selesai, Gatra langsung pulang dan tidak menyapa Nia. Sementara itu, Wahyu mengikuti Nia ke kelas X.a. Tepatnya di depan kelas Wahyu menahan Nia dan mengungkapkan perasaannya. “Dek, saya suka sama kamu. Apa kamu jadi pacarku?”. Mendengar ucapan itu, Nia jadi bingung. Dia belum bisa menjawabnya. Dia ingin meminta izin dulu kepada ibunya untuk berpacaran, selain itu dia merasa tidak enak dengan Gatra yang sejak dulu menyukainya.
            Sementara itu, Gatra yang mendengar kabar itu dari Joko hanya bisa termenung. Dia merenungi ketidakberaniaanya. Andai saja dia lebih berani, ini tidak akan terjadi. Namun nasi sudah menjadi bubur dan Gatra tidak akan bisa mengubaha apa yang telah terjadi. Kini dia hanya pasrah dengan keputusan Nia.
            Setibanya di rumah, Nia langsung menanyakan hal tersebut ke ibunya. Dan dia juga menceritakan sejauh mana dia mengenal Wahyu. Akhirnya, ibunya menyetujuinya dengan Wahyu. Namun, dia masih merasa tidak enak dengan Gatra. Dia terus berfikir mengapa Gatra yang sejak dulu menyukainya tidak pernah mengungkapkan apa yang dia rasakan sementara Wahyu yang belum lama mengenalnya justru lebih berani. Tapi, dia harus segera memutuskan.
            Beberapa hari kemudian, Nia pun memutuskan. Dia menerima Wahyu. Hal itu mengakibatkan Gatra kesal dan marah kepada Nia. Gatra memilih untuk tidak berbicara kepada Nia. Itu terjadi selama beberapa hari. Namun, lama kemudian Gatra menyadari bahwa itu hanya sia-sia. Semuanya telah terjadi, dan itu karena dia tidak berani mengungkapkan perasaannya.

            Kemudian lama kelamaan, Gatra sudah mulai melupakan Nia. Dia sudah memiliki wanita idaman yang baru. Sementara Nia, semakin dekat dengan Wahyu, meskipun kini mereka tinggal berjauhan. Mereka saling percaya bahwa mereka bisa menjaga hubungan.

Cinta Butuh Keberanian

Rabu, 26 Agustus 2015
Posted by Parsley
Tag :

// Copyright © Anak Bambu //Anime-Note//Powered by Blogger // Designed by Johanes Djogan //